Stop Competing. Start Empowering
2:10 AM
Kompetisi bukan hal yang lazim lagi di tengah masyarakat kita. Semua berkompetisi untuk menjadi yang paling ini, paling itu. Tapi kalo saya perhatikan kompetisi antar perempuan sedikit lebih kejam. Sedari kecil kita terbiasa dididik bahwa perempuan harus seperti ini dan sseperti itu, tanpa sadar kita juga didorong untuk berkompetisi, yang tidak jarang dengan cara merendahkan. Terutama urusan fisik atau cara bersikap sebagai selayaknya seorang wanita.
Menyedihkan rasanya melihat masyarakat kita sangat mudah melontarkan kata-kata yang menjatuhkan. Di media sosial bahkan lebih buruk.
When you’re in high school, catcalling, slut shaming and body shaming were all fun and cool. Ya, tentunya banyak yang melakukan ini tanpa sadar bahwa ini ternyata berdampak buruk, tidak hanya kepada korban tapi juga terhadap diri sendiri. Saya akui, saya pun pernah menghakimi orang yang badannya lebih besar dari saya, merendahkan orang yang selera pakaiannya buruk atau menjelek-jelekan pilihan gaya orang. As I get older, saya jengah juga mendengar dan melihat perempuan saling perang di dunia nyata dan di media sosial soal bentuk badan, preferensi, gaya dan lain sebagainya. Perasaan saya ketika melihat ini terjadi, saya merasa tertampar. Saya pernah melakukan ini dan saya tidak sadar bahwa ini buruk dan sangat tidak penting. So , I stopped doing that. Saya mulai menghargai perempuan lain atau memuji penampilan mereka atau sekadar memberi likes atau loves di media sosial. Rasanya menyenangkan.
Kenapa body shaming atau slut shaming buruk? Kalian pasti pernah merasakan orang lain bilang dengan nada santainya saat acara keluarga “Ih, Kamu gendutan ya?” atau “Wah, kamu kok pacarnya ganti-ganti mulu? Kapan nikahnya?” Itu saja rasanya sudah sangat menyebalkan, gimana yang lebih vulgar seperti “Ih gila, Si A udah badan gendut pake baju kebuka gitu. Sakit mata gue liatnya!” atau seperti “Gue liat Si B di Instagram foto sama cowok-cowok dan dia cewe sendiri. Dasar jablay!” Atau komentar-komentar singkat di sosial media semacam “Slut!” “So fat.” “Ah, jelek.” “Duh, kurus banget mbaknya.” Dan tentunya masih banyak lagi.
Dan kalau dipikir semua itu akan kembali ke diri kalian sendiri dalam bentuk pressure. Badan kamu tipe ini, kamu harusnya gak pakai baju begini. Kamu merasa nyaman dengan teman kamu yang kebanyakan pria tapi kamu takut dibilang yang enggak-enggak. Kamu mau pakai baju sedikit terbuka takut nanti dibilang murahan, kamu memutuskan mau berhijab tapi ada yang menunjukan telunjuknya dan bilang kamu kerdus (kerudung dusta: istilah yang digunakan bagi perempuan berhijab namun masih dianggap kelakuan dan akhlaknya belum sempurna)
What I’m trying to tell you is that it doesn’t matter what people say about you or the way you feel about yourself. Terserah kamu, kamu mau pakai apa, kamu mau bergaul dengan siapa, bagaimana kamu bersikap. Selama kita saling menghargai dan saling menghormati then why little irrelevant things should matter? Cobalah untuk saling encourage, empowering all women not only your best friends.
Imagine how this society would be so much better if we start empowering each other.
Telling people that they’re beautiful in their new dress or telling them you appreciate people and their effort, it costs nothing! Tapi apa yang mereka rasakan bisa jauh lebih berharga, bisa bikin lebih percaya diri atau bikin mood jadi bagus sepanjang hari.
Ayo, sebarkan kebaikan!

0 comments